GENETIKA
DASAR
KROMOSOM
X,Y PADA HEWAN DAN TUMBUHAN
NAMA : MUHAMMAD KHOIRUDDIN
NIM :
12112014
PRODI : AGROTEKNOLOGI
Sistem penentuan
kelamin XY adalah sistem penentuan kelamin yang dapat ditemui pada mamalia
(termasuk manusia), dan beberapa serangga (Drosophila) serta beberapa tumbuhan
(EXP : Ginkgo). Pada sistem penentuan seks XY, betina memiliki dua dari
kromosom seks yang sama jenisnya (XX), dan disebut kelamin homogenik sedangkan
jantan memiliki dua kromosom seks berbeda (XY), dan disebut kelamin
heterogenik. Sistem ini pertama kali dijelaskan oleh Nettie Stevens dan Edmund
Beecher Wilson tahun 1905.
*)
Ginkgo(Gingko Biloba) merupakan spesies tunggal dari salah satu divisio anggota
tumbuhan berbiji terbuka yang pernah tersebar luas di dunia. Pada masa kini
tumbuhan ini diketahui hanya tumbuh liar di Asia Timur Laut, namun telah
tersebar luas di berbagai tempat beriklim sedang lainnya sebagai pohon penghias
taman atau pekarangan. Bentuk tumbuhan modern ini tidak banyak berubah dari
fosil-fosilnya yang ditemukan
Pada hewan, sistem
kromosom seks merupakan aturan. Pada tumbuhan, hal ini merupakan kekecualian.
Sejauh ini sistem determinasi seks kromosomal pada tumbuhan hanya terdapat pada
lima keluarga. Namun demikian, walaupun jumlahnya sangat sedikit, sistem utama
penentuan seks pada organisme tingkat tinggi juga terwakili di dunia tumbuhan.
Sistem penentuan seks
berbasis kromosom pada manusia dimana kromosom Y berperan kritikal menentukan
identitas seks, pada dunia tumbuhan terwakili pada Silene latifolia. Pada
sistem ini, signal yang berasal dari kromosom Y mengawali proses penentuan
identitas dan diferensiasi organ seks menjadi jantan atau betina.
Sebaliknya, sistem
penentuan identitas seks dimana rasio jumlah kromosom X per satuan haploid
menentukan identatas seks yang ditemui pada Drosophilla melanogaster juga
terepresentasi di dunia tumbuhan, yakni pada tumbuhan Sorrell (Rumex acetosa).
Penentuan
sex pada tumbuhan
Tipe sex pada tumbuhan dibedakan berdasarkan individu bunga,
individu tumbuhan, dan populasi tumbuhan.
Pada individu bunga:
1.
Staminat atau
Androecious: bunga hanya mempunyai stamen atau benang sari saja, dan disebut
bunga jantan
2.
Pistilat atau
Ginoecious: bunga hanya mempunyai karpel atau putik saja dan disebut bunga
betina
3.
Hermaprodit atau Sempurna:
bunga mempunyai stamen dan karpel
Pada individu tumbuhan:
1.
Androecious: pada satu
tanaman hanya ada bunga jantan
2.
Ginoecious: pada satu
tanaman hanya ada bunga betina
3.
Monoecious: pada satu
tanaman terdapat bunga jantan dan bunga betina pada bunga yang berbeda
4.
Hermaprodit: pada satu
tanaman hanya ada bunga hermaprodit
5.
Andromonoecious: Pada
satu tanaman terdapat bunga jantan dan bunga hermaprodit
6.
Ginomonoecious: pada
satu tanaman terdapat bunga betina dan bunga hermaprodit
7.
Trimonoecious: pada satu
tanaman selain terdapat bunga jantan dan bunga betina juga terdapat bunga
sempurna
Pada populasi tumbuhan:
1.
Monoecious: suatu
populasi tumbuhan yang terdiri dari hanya tumbuhan monoecious
2.
Dioecious: suatu
populasi tumbuhan yang terdiri dari hanya tumbuhan androecious dan ginoecious
3.
Hermaprodit: Suatu
populasi tumbuhan yang terdiri dari hanya tumbuhan hermaprodit
Kromosom sex pada tumbuhan
Pada hewan tingkat tinggi, sex ditentukan oleh kromosom sex,
misalnya berupa kromosom XY (pada manusia), ZW (pada Aves). Pada tumbuhan
terdapat pula system sex kromosom heteromorfik tetapi jarang dijumpai. Pada
tanaman Silene latifolia, tumbuhan jantan memiliki kromosom sex heteromorfik XY
(22 kromosom, kroimosom sex XY) sedang pada tanaman betina terdapat 22 kromosom
dan kromosom sex XX. Pada jantan dijumpai kromosom sex heterogametik dengan 2
tipe gamet, sedang pada betina homogametik.
Pada genus Rumex sub genus acetosa jika rasio (banyaknya kromosom
X/banyaknya set autosom) sama dengan 1.0 maka terjadi tumbuhan ginoecious. Jika
rasionya 0.5 atau lebih kecil maka terjadi tumbuhan androecious, sedang jika
antara 0.5 dan 1.0 maka akan dijumpai tumbuhan andromonoecious, hermaprodit,
atau ginomonoecious. Contoh tumbuhan lain yang memiliki kromosom sex
heteromorfik adalah tanaman dioecious asparagus (Asparagus officinalis). Yang
jantan memiliki kromosom sex heteromorfik. YY dijumpai hidup dan fertil. Pada
Cannabis sativa, terdapat tipe sex heterogametik XY monoecious, homogametik XX
menampilkan ginoecious. Alel resesif pada kromosom X mengurangi kemampuan
menjadi betina, tanaman XXm menampilkan tipe sex dari ginoecious sampai ke
monoecious, dan tanaman XmXm menjadi tanaman jantan dengan morfologi bunga
seperti bunga betina.
Gen Mendelian Yang Mengontrol Tipe Seks
Gen-gen yang mengontrol tipe seks pada tanaman Cucurbitaceae,
telah dipelajari pada tanaman ketimun (Cucumis sativus). Tanaman ketimun
(2n=14) adalah species tanaman menyerbuk terbuka dan dalam individu tanaman,
semua kemungkinan tipe seks bisa muncul. Alel dominan pada lokus F (female) dan
M (monoecious) menimbulkan betina. Table berikutnya menjelaskan kontrol
penampilan seks pada melon.
Penampilan seks pada
ketimun
|
Genotipe
|
Fenotipe
|
|
M_F_
|
Ginoesious
|
|
M_ff
|
Monoesious
|
|
mmF_
|
Hermaprodit
|
|
Mmff
|
Andromonoesious
|
Penampilan seks pada
melon
|
Genotipe
|
Fenotipe
|
|
A_G_
|
Monoesious
|
|
A_gg
|
Ginomonoesious
|
|
aaG_
|
Andromonoesious
|
|
Aagg
|
Hermaprodit
|
SUMBER :
Ferry F. Karwur (Fak.
Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga)
hahaha suwun bro,. nyontoh yow,,..???
BalasHapus