Kamis, 24 Oktober 2013

TUGAS GENETIKA DASAR

GENETIKA DASAR
KROMOSOM X,Y PADA HEWAN DAN TUMBUHAN

NAMA                        : MUHAMMAD KHOIRUDDIN
NIM                            : 12112014
PRODI                        : AGROTEKNOLOGI

Sistem penentuan kelamin XY adalah sistem penentuan kelamin yang dapat ditemui pada mamalia (termasuk manusia), dan beberapa serangga (Drosophila) serta beberapa tumbuhan (EXP : Ginkgo). Pada sistem penentuan seks XY, betina memiliki dua dari kromosom seks yang sama jenisnya (XX), dan disebut kelamin homogenik sedangkan jantan memiliki dua kromosom seks berbeda (XY), dan disebut kelamin heterogenik. Sistem ini pertama kali dijelaskan oleh Nettie Stevens dan Edmund Beecher Wilson tahun 1905.
*) Ginkgo(Gingko Biloba) merupakan spesies tunggal dari salah satu divisio anggota tumbuhan berbiji terbuka yang pernah tersebar luas di dunia. Pada masa kini tumbuhan ini diketahui hanya tumbuh liar di Asia Timur Laut, namun telah tersebar luas di berbagai tempat beriklim sedang lainnya sebagai pohon penghias taman atau pekarangan. Bentuk tumbuhan modern ini tidak banyak berubah dari fosil-fosilnya yang ditemukan
Pada hewan, sistem kromosom seks merupakan aturan. Pada tumbuhan, hal ini merupakan kekecualian. Sejauh ini sistem determinasi seks kromosomal pada tumbuhan hanya terdapat pada lima keluarga. Namun demikian, walaupun jumlahnya sangat sedikit, sistem utama penentuan seks pada organisme tingkat tinggi juga terwakili di dunia tumbuhan.
Sistem penentuan seks berbasis kromosom pada manusia dimana kromosom Y berperan kritikal menentukan identitas seks, pada dunia tumbuhan terwakili pada Silene latifolia. Pada sistem ini, signal yang berasal dari kromosom Y mengawali proses penentuan identitas dan diferensiasi organ seks menjadi jantan atau betina.
Sebaliknya, sistem penentuan identitas seks dimana rasio jumlah kromosom X per satuan haploid menentukan identatas seks yang ditemui pada Drosophilla melanogaster juga terepresentasi di dunia tumbuhan, yakni pada tumbuhan Sorrell (Rumex acetosa).
Penentuan sex pada tumbuhan
Tipe sex pada tumbuhan dibedakan berdasarkan individu bunga, individu tumbuhan, dan populasi tumbuhan.
Pada individu bunga:

1.      Staminat atau Androecious: bunga hanya mempunyai stamen atau benang sari saja, dan disebut bunga jantan
2.      Pistilat atau Ginoecious: bunga hanya mempunyai karpel atau putik saja dan disebut bunga betina
3.      Hermaprodit atau Sempurna: bunga mempunyai stamen dan karpel

Pada individu tumbuhan:

1.      Androecious: pada satu tanaman hanya ada bunga jantan
2.      Ginoecious: pada satu tanaman hanya ada bunga betina
3.      Monoecious: pada satu tanaman terdapat bunga jantan dan bunga betina pada bunga yang berbeda
4.      Hermaprodit: pada satu tanaman hanya ada bunga hermaprodit
5.      Andromonoecious: Pada satu tanaman terdapat bunga jantan dan bunga hermaprodit
6.      Ginomonoecious: pada satu tanaman terdapat bunga betina dan bunga hermaprodit
7.      Trimonoecious: pada satu tanaman selain terdapat bunga jantan dan bunga betina juga terdapat bunga sempurna

Pada populasi tumbuhan:

1.      Monoecious: suatu populasi tumbuhan yang terdiri dari hanya tumbuhan monoecious
2.      Dioecious: suatu populasi tumbuhan yang terdiri dari hanya tumbuhan androecious dan ginoecious
3.      Hermaprodit: Suatu populasi tumbuhan yang terdiri dari hanya tumbuhan hermaprodit

Kromosom sex pada tumbuhan
Pada hewan tingkat tinggi, sex ditentukan oleh kromosom sex, misalnya berupa kromosom XY (pada manusia), ZW (pada Aves). Pada tumbuhan terdapat pula system sex kromosom heteromorfik tetapi jarang dijumpai. Pada tanaman Silene latifolia, tumbuhan jantan memiliki kromosom sex heteromorfik XY (22 kromosom, kroimosom sex XY) sedang pada tanaman betina terdapat 22 kromosom dan kromosom sex XX. Pada jantan dijumpai kromosom sex heterogametik dengan 2 tipe gamet, sedang pada betina homogametik.
Pada genus Rumex sub genus acetosa jika rasio (banyaknya kromosom X/banyaknya set autosom) sama dengan 1.0 maka terjadi tumbuhan ginoecious. Jika rasionya 0.5 atau lebih kecil maka terjadi tumbuhan androecious, sedang jika antara 0.5 dan 1.0 maka akan dijumpai tumbuhan andromonoecious, hermaprodit, atau ginomonoecious. Contoh tumbuhan lain yang memiliki kromosom sex heteromorfik adalah tanaman dioecious asparagus (Asparagus officinalis). Yang jantan memiliki kromosom sex heteromorfik. YY dijumpai hidup dan fertil. Pada Cannabis sativa, terdapat tipe sex heterogametik XY monoecious, homogametik XX menampilkan ginoecious. Alel resesif pada kromosom X mengurangi kemampuan menjadi betina, tanaman XXm menampilkan tipe sex dari ginoecious sampai ke monoecious, dan tanaman XmXm menjadi tanaman jantan dengan morfologi bunga seperti bunga betina.



Gen Mendelian Yang Mengontrol Tipe Seks
Gen-gen yang mengontrol tipe seks pada tanaman Cucurbitaceae, telah dipelajari pada tanaman ketimun (Cucumis sativus). Tanaman ketimun (2n=14) adalah species tanaman menyerbuk terbuka dan dalam individu tanaman, semua kemungkinan tipe seks bisa muncul. Alel dominan pada lokus F (female) dan M (monoecious) menimbulkan betina. Table berikutnya menjelaskan kontrol penampilan seks pada melon.

Penampilan seks pada ketimun
Genotipe
Fenotipe
M_F_
Ginoesious
M_ff
Monoesious
mmF_
Hermaprodit
Mmff
Andromonoesious
Penampilan seks pada melon
Genotipe
Fenotipe
A_G_
Monoesious
A_gg
Ginomonoesious
aaG_
Andromonoesious
Aagg
Hermaprodit



SUMBER :

Ferry F. Karwur (Fak. Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga)

1 komentar: